Pukul 09.30 malam, Irna sedang mondar mandir di UGD, 4 anaknya Kilau, Binar, Biru, dan Rindu, termasuk dia sendiri muntah muntah karena keracunan makanan. Selepas magrib tadi mereka menyantap opor ayam buatan Bibi. Enak seperti biasa, tapi ngga tau kenapa, menjelang jam 8 malam, satu persatu anak anak Irna mulai muntah, terakhir dia sendiri bolak balik kamar mandi karena mual yang mendera.

“Orang tua anak Kilau?” Seorang perawat memanggilnya, bergegas Irna menuju meja perawat.

“Ya sus?”

“Silahkan registrasi dulu ya bu, nanti dibawa lagi kesini berkasnya.” Suster menjelaskan kenapa memanggil Irna

“Oke” sahut Irna pendek

“Anak Biru, orang tua anak Biru?” Suster yang sama memanggil lagi.

“Saya sus”

“Oh, ibu juga?”

“Iya, anak saya 4 sus yang di rawat, atas nama Kilau, Binar, Biru, dan Rindu” jelas Irna sambil mengernyitkan dahu menahan pusing dan mual.

Suster menyerahkan 4 berkas.

“Atas nama saya juga sus, Irna”

Suster memeriksa berkas di meja, dan menyerahkan selembar kertas pada Irna

“Suaminya masih di jalan bu?” Suster memperhatikan Irna dengan prihatin.

“Saya single parent sus.” Jawab Irna sambil tersenyum.

“Oooh, ibu ngurus sendiri? Dan ibu sendiri juga pasien?”

“Iya”

“Kalau gitu, silahkan ibu ke bed no. 3 aja bu, administrasinya nanti kami bantu”

“Terima kasih suster” sahut Irna dengan suara rendah, tenggorokannya terasa tercekat seperti ada yang tertahan disana.

Sambil memeluk si bungsu Rindu, Irna memastikan anak anaknya yang lain tertangani dengan baik, memperhatikan mereka dengan seksama, sambil sesekali mengajak mereka bicara. Memastikan mereka masih bernafas lebih tepatnya.

Pukul 00.00, cairan infus mereka berlima sudah habis, sudah tidak ada yang muntah, Irna memutuskan untuk pulang dan observasi dari rumah saja. Mengingat asuransi yang di cut off sama Danang tanpa sepengetahuannya, Irna tidak mau berlama lama di Rumah Sakit, selain pedih di hati juga pedih di dompet.

Pukul 01.30, mereka tiba di rumah, Irna dibantu anak anaknya mengganti seprei yang bau muntahan, membersihkan lantai yang juga lengket karena muntah yang berceceran. Irna memutuskan tidur bersama malam ini, kruntelan berlima, biar mudah kalo ada apa apa.

“Bu, terima kasih sudah jagain kita.” Rindu si bungsu yang berhati lembut, mulai membuka suara setelah mereka berbaring.

“Sama sama nak, terima kasih juga kalian ngga rewel dan nurut apa kata ibu sama kata dokter”

“Terima kasih bu” ujar Kilau, Binar dan Biru bersamaan.

“Bu, ayah dikasih tau ga kita keracunan makanan?” Si sulung Kilau bertanya. “Iya, ibu kasih tau”

“Trus? Mau kesini? Atau apa gitu?”

“Ngga bisa Ka, ayah kan ngga bisa dadakan begitu, harus pesan tiket dulu, jalan dulu, apa dulu. Lagian kita semua baik baik saja sekarang.”

Kilau hanya terdiam tidak puas dengan jawaban Irna. Irna menghela nafas, bisa merasakan kekecewaan dalam diamnya Kilau, “tidur yuk nak, biar besok seger lagi, main lagi, berantem lagi, sekolah lagi”

Bismika allahuma amutu wa ahya.” sahut anak anak bersamaan.

Hening. Anak anak satu persatu terlelap, tinggal Irna sendiri menatap langit langit kamar, sambil memeluk si kecil Rindu. Hatinya tiba tiba mencelos, tak terasa air matanya jatuh perlahan.

Bukan, bukan sedih karena sendirian. Air matanya jatuh karena bersyukur anak anaknya selamat, dia sendiri kuat dan bisa menangani semuanya dengan baik. Bersyukur masih bisa berpikir jernih dan bertindak dengan cepat. Bersyukur karena Allah masih memberinya kesempatan hidup bersama keempat anaknya.

Banyak kerabat dan sahabat yang menyarankan Irna untuk menikah lagi. Mencari sosok pengganti ayah bagi anak anaknya, menjadi pendamping hidupnya, yang bisa melindungi sekaligus menyayangi mereka.

“Seriously, apakah ada laki laki seperti itu?” Pikiran Irna menerawang jauh. Berpikiran jauh ke depan, Irna menganggap pernikahannya akan berat buat semua pihak. Untuk Irna, untuk si calon iman, dan untuk anak anak.

Lima tahun belakangan ini Irna berjuang mengembalikan kewarasannya, sambil menjaga kestabilan mental anak anak. Berusaha sekuat tenaga mencukupi semua kebutuhan mereka baik financial maupun spiritual. Jatuh bangun, keringat, banjir airmata, sudah dilaluinya terseok seok tapi penuh keberanian.

Malam malam mencekam seperti hari ini pernah dilaluinya beberapa kali. Kekurangan uang, kekurangan makanan, kekurangan tenaga, kekurangan waktu, dan tentu saja kekurangan perhatian, dilaluinya dengan sungguh sungguh.

Saat ini semuanya sudah di rasa stabil, kemudian ada Andi yang berusaha mengetuk pintu hatinya. Irna tersadar, bahwa dia tidak siap untuk menikah lagi. Dia tidak mau apa yang selama ini di bangun, disusun, ditempatkan kembali pada tempat yang seharusnya, berantakan hanya karena emosi sesaat. Hanya karena dia kesepian, kekurangan, atau malu karena status janda.

Irna merasa hidup sendiri bersama anak anak saat ini, merupakan pilihan terbaik. masih jelas diingatannya, anak anak terpukul karena perpisahannya dengan Danang,permusuhan yang terjadi setelahnya. Belum lagi kehilangan sosok ayah, ibu yang depresi, kekurangan disana sini. Pasti melelahkan bagi mereka, begitu pikir Irna malam ini.

Sekarang, semuanya membaik atas ijin Allah. “Gue ngga mau merusak tatanan yang ada, gue mau hidup tenang seperti sekarang. Gue hanya mau menikmati hidup, berjuang bersama anak anak, ngopi bareng sahabat, menulis, membaca, jalan jalan, tenang beribadah, sudah itu saja. I don’t need romance.” pikiran logis Irna menguasai hatinya.

“Maaf Andi, sampai hari ini hati ini masih belum terbuka. Gue bahagia dengan segala kesulitan dan kesenangan yang gue terima saat ini. Kita temenan aja seperti biasa” pungkas Irna dalam hati.

Matanya perlahan terpejam, menyusul anak anaknya yang tertidur lelap.


8 Thoughts to “sendiri lebih baik”

  1. Yaaahhh gak ada Andi nyaaa, aku nungguin padahal wkwkwk

    1. wakakkakkakaka Andi di kantor lama hahahahah

  2. Mbak, aku sedih bacanya. Soalnya pas anakku sakit juga ngerawat sendiri di rumah sakit. Apalagi masih bayi jadi susah mau ngapa-ngapain. Apalagi Irna anaknya 4, ya Allah. Gak bisa ngebayangin reportnya.

    1. ini nulisnya juga nyeseekk hahahhaha

      1. MasyaAllah, kuat sekali wanita ini.
        😍

  3. Kasian gempi…
    Eh,maksudnya kasian andi..

  4. Obi

    Eh..si calon iman ada disini,

    ahhh…bacanya sambil membuka memory seperti kenal dengan tokor irna. #eh

    1. wkwkwkwkwkwkwkwwkkw sssttttt rahasia negara hahahahha

Leave a Comment