Dalam keadaan sangat futur, putus asa, jenuh dengan segala aktifitas domestik yang ga habis habisnya, gue sering berpikir dan berencana untuk KABUR aja dari rumah hahahhaaha, ada yang mirip ma gue?

Jangan ditiru beb, ga bae hahaha.

Membayangkan di rumah dengan rutinitas yang itu itu saja,tidak ada ujung pangkalnya, rasanya seperti pembunuhan karakter. Merasa tidak berharga, tidak berarti, merasa hanya sebatas jadi pengasuh, tukang beberes rumah, tukang masak, tempat lalu lalang keuangan (lewat doang hahahhaha), begitulah…hanya ini hanya itu….i feel worthless.

Beresin rumah untuk berantakan lagi 5 menit kemudian. Muter otak masak untuk kemudian di bilang…aku ga mau makan ituuuuu. Muter otak untuk mencukupkan uang bulanan, untuk kemudian ditanya, uangnya kemana?

Setengah mati mikir cara gimana menertibkan anak anak, untuk kemudian melihat mereka melanggar semua aturan yang di sepakati bersama hahahha oh Tuhaaann.

Melakukan semuanya dengan sepenuh hati untuk kemudian tidak ada kenaikan pangkat, atau sekedar ucapan terima kasih, sedih aqutuuuu hahahahaha.

Exhausted mom, sampe berkali – kali bilang, gue give up ngurus anak anak, hak asuh pengen gue lepaskan, tapi entah kenapa itu ga pernah terjadi. Alhamdulillah.

Kalo lagi gila sih gue mikirnya, mantan ga tanggung jawab, ga mau ngurusin anak anak, ga mau kehidupan barunya terganggu sama anak anak. Namanya juga gila, bebas doongg mikir apa aja wkkwkwkwkwk.

Anggaplah semua yang gue sebutkan itu benar, which is itu cuma otak gue aja yang mikir kotor dan ngehe, gue tetap berterima kasih karena dia ngga ambil anak anak.

Gue ga bisa bayangin apa yang akan terjadi kalo dia beneran melakukan apa yang gue teriakan ketika tantrum. Maka semua akan kembali patah hati. Drama akan terus berlanjut, ngalahin keseruan sinetron Noktah Merah Perkawinan.

Setelah melalui perjalan panjang, lebih lama dari perjalan Biksu Tong mencari Kitab Suci (oke ini terdengar basi hahahahah), akhirnya gue menemukan satu bahasa yang bisa dimengerti semua pihak di keluarga kecil kami.

DIAM

Yes, diam beb.

Tidak tau sejak kapan ini menjadi konsensus di keluarga kecil kami. Tapi, ketika ibu diam, anak anak segera paham bahwa ibu tidak ingin dibantah, lelah menjelaskan sesuatu, dan ingin semua tenang agar masalah bisa terlihat dengan jelas, sehingga mudah mencai solusi.

Ketika anak anak diam, gue paham ada sesuatu yang ga beres, entah mereka main kebablasan, seperti nyemil makanan kucng misalnya, entah mereka melakukan sesuatu yang dilarang, atau terlalu sakit sampe ngga ada tenaga buat ngeluh.

Diam adalah tangisan dan teriakan paling keras menurut kami. Diam di keluarga kami adalah jawaban bagi banyak pertanyaan.


One Thought to “Diam dan Keluarga Kecil Kami”

  1. Jadi diam itu adalah bahasa yang harus dipahami oleh orang rumah ya. Hahahha

Leave a Comment